Featured

baca ini dulu…

Dapur kost-an bertujuan untuk menyajikan resep-resep sederhana yang dapat dicoba oleh para kost-ers. Sesuai dengan maksud tersebut, sebisa mungkin akan disesuaikan dengan keterbatasan yang ada di dunia kost-ers, misalnya keterbatasan perlengkapan memasak, juga sempitnya waktu memasak, dll. Kalau pun motivasinya berbeda, apakah karena hobi, pembiasaan diri, atau tuntutan ekonomi, tak menjadi masalah, hehehe. Di sini kita bisa berbagi resep, teknik memasak, tips dan trik memasak, menyimpan makanan, memilih bahan makanan, mengatur gizi dan nutrisi seimbang walau dalam kondisi terbatas, berbelanja bahan makanan, serta mengatur uang belanja.

Jadi standarnya, untuk setiap resep seharusnya tercantum pula keterangan nutrisi, padu padan menu sederhana, biaya belanjaan, dan waktu memasak serta tips2 lain. namun karena banyak keterbatasan, yah, begitulah, mahasiswa, sok sibuk, hehe. jadinya masih banyak yang tidak sesuai standar yang saya tetapkan sendiri. Atau belum ada, ya? hehehe.

Featured

Optimalisasi Rice Cooker

Anak kost tak semuanya beruntung memiliki dapur di kostan. Jadi seringkali sulit untuk memasak karena keterbatasan tersebut. Tetapi, rata-rata rice cooker tersedia di kamar kost. Biasanya –sesuai namanya—digunakan untuk memasak nasi, kadang-kadang untuk merebus mie.

Sebetulnya sayang sekali kalau rice cooker hanya digunakan minimalis seperti itu. Memang sekarang ada rice cooker lebih canggih yang memiliki pengatur untuk membuat bubur dan lain sebagainya.Dalam  artikel ini saya akan memaparkan beberapa masakan yang dapat dimasak dengan rice cooker, sekedar untuk mengoptimalkan penggunaan magic jar ini.

Continue reading “Optimalisasi Rice Cooker”

Pao 

Nyetok pao beku lagi nih…

Kali ini nyoba resep yang nemplok di kotak raginya (tak persis, tentu saja, haha). Kalau isiannya mengarang bebas, seadanya persediaan bahan di dapur.

Bahan:

1000 gr tepung terigu cakra
500 ml air
100 gr shortening
250 gr gula halus
1 bungkus ragi instan GS

Isian

Aku pakai dua jenis isian, satu rasa coklat (coklat blok aja diiris-iris, aku pakai coklat baker’s mart, lebih enak dari colatta rasanya). Sebagian lagi kuisi adonan susu. Bahannya sbb:

250 gr kentang, direbus, haluskan
100 ml susu putih
2 sdm gula pasir
75 gr keju cheddar parut
Cara Pembuatan 

1. Campur bahan kering (terigu, ragi, gula halus) hingga rata.

2. Masukkan air perlahan sambil diaduk menggunakan spatula hingga bercampur rata.

3. Masukkan shortening. Aduk hingga kalis.

4. Bulatkan, istirahatkan selama ±20 menit. Tutup dengan serbet bersih lembab.

5. Sambil menunggu, kita buat isiannya: Rebus susu dengan api kecil. Masukkan keju parut dan gula pasir, aduk terus hingga bercampur (jika ingin larut, lebih baik menggunakan creamcheese). Terakhir masukkan kentang halus. Aduk terus hingga mengental dan meletup-letup. Angkat. Dinginkan.

6. Siapkan kukusan. Rebus air dan bungkus tutup panci dengan serbet bersih agar uap air tidak menetes ke dalam panci.

7. Bagi adonan menjadi 30 bagian (untuk ukuran bakpao matang ± sekepalan tangan). Aku gunakan spatula untuk memotong adonan.

8. Ambil tiap potong, bulatkan berjejer. Lalu beri isian kira-kira 1 sdm. Tarik sisa adonan ke arah bawah agar permukaannya bulat rapi. Beri alas potongan kertas roti.

9. Kukus ±10 menit. Beri jarak sekeliling min.½ diameter pao

Lalu setelah matang bisa langsung dimakan, sisanya simpan di kulkas. Kukus dulu jika akan dimakan.

P.S. Kalau dibanding resep dari mbak Astri Nugraha (yang dulu pernah aku coba di postingan Bakpau Setengah), yang ini kurang empuk. Jadinya lebih mirip tekstur bakpao di pasar, agak-agak kenyal gitu. 

Sambel Goreng Ampela

Berhubung gak terlalu suka ati tapi doyan ampela jadi cuss diganti aja ya. Ceritanya gegara ada yang kangen makan-makan ala kondangan, jadi untuk menghibur duka lara mari kita masak seadanya yang rada nyerempet-nyerempet sana.

Yang perlu disiapkan: 

◾kentang (3 aja ukuran sedang, kira2 total 300-400 gr, lah); 

◾ampela 5 biji; 

◾bumbu halus:  1.bawang merah dan bawang putih, lupa tadi segimana, kira2 aja; 2.  lengkuas bubuk 1 sdm; 3. kemiri 2 butir; 4. cabe merah keriting 10 buah –> semua diblender

◾jahe 2 cm diparut; 

◾garam ½ sdt; 

◾penyedap sukarela aja; 

◾sereh sebatang disimpul; 

◾ bunga lawang dua keping 

◾gula pasir secukupnya

◾santan encer kira-kira 150 ml;

◾minyak goreng untuk menggoreng kentang, ampela, dan menumis

Setelah semua siap, kita mulai prosesnya:

  1. Iris-iris ampela lalu campur dengan jahe parut, sisihkan.
  2. Kupas kentang ➡cuci➡iris dadu➡goreng agak kering➡sisihkan.
  3. Goreng ampela dengan minyak sisa menggoreng kentang hingga matang (tidak kering). Tiriskan, buang minyaknya (yang juga mengandung lemak dari ampela, dengan cara ini ampela tidak bau amis).
  4. Tumis bumbu halus dengan minyak goreng baru. Masukkan bunga lawang, sereh, masak hingga wangi.
  5. Masukkan ampela, masak hingga menyerap bumbu. Jika perlu tambah air sesekali.
  6. Lalu tuangkan santan perlahan sambil diaduk.
  7. Setelah mendidih dan agak menyusut, masukkan kentang goreng. Masukkan juga garam dan gula pasir. Masak hingga kering (atau masih berkuah jika lebih suka begitu). 

Bihun Goreng

Karena aku pemegang rekor resep tak pernah sama (alias masak sekenanya, seadanya bahan dan bumbu), jadi penulisan resep kadang hanya sekedar meal diary atau ngabsen bumbu, bukan petunjuk seolah prosedur di lab. Bihun goreng ini termasuk makanan kesukaan, apalagi kalau dapat besek dari hajatan. Beuh!

Berhubung sudah jarang kondangan dan resepsi zaman sekarang rada jarang pakai bihun, buncis kelapa, sambel goreng ati, cuss lah kita buat aja.

Harusnya sih pakai bihun biasa, lebih enak, tapi adanya bihun jagung. Ya udah. Biasanya ga pake kecap, tadi iseng dan penasaran, gelontorlah si kecap dari botolnya. 

Biasanya ngulek bumbu sendiri: bawang putih, bawang merah,lada putih, sedikit merica. Tadi malasssss jadilah yang nyemplung: bawang putih bubuk, lada putih bubuk, saus tiram. 

Tambah iris-iris daun bawang dan sawi sisa masak indomie. (Padahal biasanya berlimpah sayur, selain sawi plus irisan kol tipis dan seledri). Sreng-sreng…

A warm surprise

Saya malas makan lagi setelah pas hari ied porsi makannya…, subhanallah :roll:. Hari ini tidak masak nasi. Brunch semangkuk bakso. Siangan lagi makan goreng ulen dan bebeye. Apa itu ulen? Ulen atau uli atau jadah kalo di jawa, dibuat dari nasi ketan yang ditumbuk dg parutan kelapa yang telah dikukus. Nah, tradisi Sunda, ulen biasanya dimakan langsung dengan peuyeum ketan (tape uli bagi orang betawi), atau digoreng dulu.

image
Sisi kiri adalah goreng ulen, sisi kanan sepiring bebeye

Nah, bebeye, yang posisinya di kanan dalam foto di atas merupakan masakan daur ulang. Pas lebaran kemarin saya masak opor dan bihun, lalu ada sambal goreng kentang. Tadi pagi, sisa makanan kemarin itu saya campur dan ditumis, diaduk-aduk. Kenapa disebut bebeye, karena memang diaduk sampai nampak beye (lembek). Padahal ya ga benyek juga sih, karena lebih enak ditumis sampai kering, dan agak mengerak.

Lalu, sorenya sudah berencana tidak makan lagi, meski lapar, heu… Padahal besok sudah harus sahur lagi tapi masih malas masak nasi. Eh, tiba-tiba tetangga mengetuk pintu dan mengantar sepiring pisang rebus! Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah…

image

Mie Titi (2)

image

Sejak jajan mie titi tempo hari di foodcourt kerfur, beberapa kali coba buat sendiri di rumah. Jarang karena printilannya lumayan banyak sih, ya ayam, udang juga, bakso lah… Tapi seringnya jadi tanpa anggota lengkap: udang yang hampir selalu absen.

Selain itu yang bikin males juga goreng mie nya yang harus jebur-jebur di minyak biar kriuk dan gak jemek. Akhirnya kalau buat lagi, gorengnya sekalian agak banyak, jadi nyetok mie kriuknya, begitu.

Sore tadi, berhubung isi kulkas sudah tidak banyak menyisakan kelapangan memasak (bahan sedikit dan sedihnya ada yang rusak karena empat hari ini tidak masak), pilihan jatuh pada pangan non nasi (selalu sedia mie dan pasta sih untungnya).

Jadi yang tersisa a.l.: irisan sawi putih, kol, seledri+daun bawang, wortel beku, ayam beku, kaldu beku. Masih mungkin buat mie kuah sop, tapi akhirnya jatuh pada mie titi biar ada kesan ngemil di kriuknya.

Karena ketersediaan bahan yang variatif setiap kali memasak, makanan di dapur kost tidak punya standar, tapi berpegang pada konsep makanannya saja. Misal, untuk mie titi konsepnya adalah mie yang digoreng kering lalu disiram kuah bening (agak kental sih enaknya) plus sayuran. Karena ini masakan dengan pengaruh chinese food, jadi rasanya gurih-gurih enteng gitu.
Panjang amat ya sekedar mau bilang kalo gak bisa ngulang rasa masakan yang sama, hahah.

However, aku bukan eksperimentalis, jadi jiwa sainsnya cukup berhenti dalam konsep yang abstrak. #ngopidulu #bukancoke

image